MiLYS Menuju Palembang

Kota Palembang merupakan salah satu kota besar di Indonesia dan juga menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Selatan. Seperti dilansir id.wikipedia.org, Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, sebelum pindah ke Jambi. Sedangkan Bukit Siguntang, di bagian barat Kota Palembang, hingga kini masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian di masa lalu.

Ya, Palembang merupakan kota tujuan yang termasuk diminati. Buktinya, Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS) berencana untuk berkunjung ke sana. Alasan MiLYS pergi ke Palembang adalah dalam rangka hari jadi MiLYS Ke-VI, menghadiri acara pernikahan kawan Awing (MiLYS 592), dan suksesnya Mubes II MiLYS di Ragunan, beberapa waktu lalu. Baca lebih lanjut

Iklan

Rp 18,28 Triliun Total Anggaran 12 Tim F1

Sebanyak 12 tim peserta Grand Prix Formula 1 (GP F1) membukukan total anggaran sebanyak 1,5 miliar euro atau Rp 18,28 triliun untuk musim kompetisi GP F1 2010.

Seperti dilansir autosport.com, belum lama ini, dana terbesar dikeluarkan oleh Scuderia Ferrari Marlboro. Mereka menyediakan anggaran sebanyak 240 juta euro atau Rp 2,88 triliun untuk 19 seri sepanjang tahun ini. Dana yang disediakan Ferrari, sebagai salah satu tim yang sudah lama terjun dalam GP F1, memang tergolong besar. Ferrari masih lebih unggul dari Vodafone McLaren Mercedes  yang hanya menyediakan dana 220 juta euro atau Rp 2,64 triliun. Sedangkan Renault F1 menyediakan dana 205 juta euro atau Rp 2,46 triliun.

Baca lebih lanjut

Sensasi TVS Apache RTR 160

Foto: StephenLangitan.com

ADA yang menarik dari TVS Apache Racing Throttle Response (RTR) 160. Mendengar nama Apache pasti langsung teringat oleh sejumlah masyarakat budaya di Amerika Utara.

Seperti dilansir id.wikipedia.org, suku Apache pindah ke selatan dari utara Amerika Serikat. Tokoh-tokoh terkenal suku Apache adalah Geronimo, Cochise dan Mangas Coloradas. Kehebatan mereka diakui oleh Angkatan Darat Amerika Serikat (AD AS). Menurut pihak AD AS, mereka adalah suku-suku yang kuat dengan strategi perang yang brilian.

Baca lebih lanjut

Rp 18,28 T Total Anggaran 12 Tim F1

Sebanyak 12 tim peserta Grand Prix Formula 1 (GP F1) membukukan total anggaran sebanyak 1,5 miliar euro atau Rp 18,28 triliun untuk musim kompetisi GP F1 2010.

Seperti dilansir autosport.com, belum lama ini, dana terbesar dikeluarkan oleh Scuderia Ferrari Marlboro. Mereka menyediakan anggaran sebanyak 240 juta euro atau Rp 2,88 triliun untuk 19 seri sepanjang tahun ini. Dana yang disediakan Ferrari, sebagai salah satu tim yang sudah lama terjun dalam GP F1, memang tergolong besar. Ferrari masih lebih unggul dari Vodafone McLaren Mercedes  yang hanya menyediakan dana 220 juta euro atau Rp 2,64 triliun. Sedangkan Renault F1 menyediakan dana 205 juta euro atau

Rp 2,46 triliun.

Setiap seri, Scuderia Ferrari menghabiskan dana Rp 151,6 miliar. Sedangkan McLaren Mercedes mengucurkan dana Rp 138,9 miliar. Dan, Renault F1 hanya mengeluarkan dana Rp 129,5 miliar. Dalam hal pengeluaran setiap seri, Scuderia Ferrari  masih sebagai tim yang mengucurkan dana terbesar.

“Sejarah Scuderia Ferrari sangat panjang. Tim ini punya nama besar dan modal kuat karena sudah berdiri sejak 1929. Saat itu, sebagai sponsor untuk beberapa pembalap amatir dalam berbagai balapan. Bahkan, saat itu, Enzo menjadi pembalap saat menggunakan mobil Fiat sebagai kendaraannya,” kata Presiden Ferrari, Luca di Montezemolo.

Sejak 1950 sampai awal 1977, kata ujar Luca di Montezemolo, seluruh mobil F1 Ferrari belum ada logo sponsor. Musim 1977 menjadi awal kebangkitan sejarah sponsorship Ferrari. Saat itu, mereka disponsori oleh FIAT Group (yang telah menjadi pemilik Ferrari sejak 1969). Sampai dekade 1980-an, hanya Magneti Marelli dan Agip yang setia menjadi sponsor Ferrari, itupun hanya dalam sebatas pemasok alat-alat teknis dan pemasok bahan bakar.

Tim Ferrari, kata Luca di Montezemolo, pertama kali disponsori Marlboro sejak musim 1984. Saat itu, Marlboro menjadi sponsor bagi tim McLaren. Marlboro secara resmi menjadi sponsor utama Ferrari sejak musim 1997. Pada akhir 2005, Ferrari mengumumkan bahwa mereka telah memperpanjang kontrak sponsorship dengan Marlboro (Philip Morris) sampai musim 2011. Saat itu, pelarangan semua bentuk sponsorship berbau rokok mulai diterapkan di Eropa, dan beberapa tim F1 memutuskan untuk mengakhiri kontrak sponsor mereka dengan pabrikan rokok (seperti McLaren dengan West dan Renault dengan Mild Seven). Setiap tahun, Ferrari mendapatkan suntikan dana segar sebesar US$ 1 miliar dari Marlboro.

Meskipun secara resmi kontrak dengan Marlboro berakhir pada 2011, tim Ferrari saat ini berhasil mendapatkan sponsor lain. Mulai 2010 seiiring duduknya Fernando Alonso di kursi pembalap, Grupo Santander akan menjadi sponsor besar kedua Ferrari setelah Marlboro. Kesepakatan kontrak Ferrari dan Santander berlangsung selama lima musim. Setiap tahun, Ferrari akan mendapatkan dana sebesar hampir US$ 40 juta.

Perusahaan-perusahaan lain yang juga saat ini menjadi sponsor Ferrari, menurut  Luca di Montezemolo, yaitu  Shell – Royal Dutch/Shell Group, Bridgestone, Acer, Etihad Airways, dan beberapa lainnya termasuk Mubadala Development Company (sebuah perusahaan investasi asal Abu Dhabi yang juga memiliki 5% saham Ferrari sejak 2007).

“Sebagai bagian dari kesepakatan dengan Acer, Ferrari memperbolehkan Acer untuk meluncurkan paket PC desktop dan laptop dengan logo resmi Ferrari. Perusahaan prosesor komputer terbesar kedua di dunia, AMD juga menjadi sponsor Ferrari, dan kemudian mereka bekerja sama dengan Acer untuk meluncurkan beberapa seri laptop dengan desain memakai logo Ferrari,” kata dia.

Pembalap McLaren Mercedes asal Inggris, Jenson Button sedang berhenti di pit lane dalam sesi latihan menjelang GP F1 Shanghai di Sirkuit Internasional Shanghai, akhir pekan lalu.

Selain sponsor, Ferrari memiliki beberapa pemasok resmi, yaitu Magneti Marelli, OMR, SKF, Europcar, Iveco, NGK, Puma, Tata Consultancy Services, Brembo, BBS Kraftfahrzeugtechnik AG, SELEX Communications, Technogym, Schuberth dan Microsoft. (rio winto)

Sensasi TVS Apache RTR 160

ADA yang menarik dari TVS Apache Racing Throttle Response (RTR) 160. Mendengar nama Apache pasti langsung teringat oleh sejumlah masyarakat budaya di Amerika Utara.

Seperti dilansir id.wikipedia.org, suku Apache pindah ke selatan dari utara Amerika Serikat. Tokoh-tokoh terkenal suku Apache adalah Geronimo, Cochise dan Mangas Coloradas. Kehebatan mereka diakui oleh Angkatan Darat Amerika Serikat (AD AS). Menurut pihak AD AS, mereka adalah suku-suku yang kuat dengan strategi perang yang brilian.

Dahulu, suku Apache tinggal di Arizona tenggara dan Meksiko barat daya. Kelompok-kelompok utama dalam suku Apache adalah Arivaipa, Chiricahua, Coyotero, Faraone Gileno, Llanero, Mescalero, Mimbreno, Mogollon, Naisha, Tchikun dan Tchishi. Mereka adalah suku-suku yang kuat dan selalu memimpin sejumlah pertempuran. Saat ini, suku Apache tinggal sebanyak 11.000 jiwa di Arizona, New Mexico dan Oklahoma.

“Betul, nama Apache diambil dari suku Apache. Mereka adalah suku yang kuat dan selalu memimpin pertempuran,” ujar Corporate Communications PT TVS Motor Company Indonesia, Nurlida Fatmikasari (Mieke) saat dikonfirmasi penulis, Selasa (20/4).

Lantas, bagaimana performa TVS Apache (RTR) 160 cc? Akhir pekan lalu, sejak Jumat (16/4) sampai Minggu (18/4), penulis bersama dua rekan lainnya, pakar Safety Riding, Edo Rusyanto (TVS Apache double disk) dan Stephen  Langitan (TVS Apache single disk), independent blogger, mendapat kesempatan untuk menguji coba (test ride) TVS Apache RTR 160 cc. Untuk membuktikan ketangguhannya, saya  mengendarai TVS Apache (single disk) berwarna hitam ini ke daerah Bandung dengan rute Jakarta-Pasar Minggu, Depok (Cimanggis), Puncak Bogor- Cianjur-Cimahi-Bandung. Dan, pulang kembali ke Bekasi, melalui rute berbeda, yaitu Bandung, Lembang, Wanayasa, Cikampek, Karawang, dan Bekasi.

Sepanjang perjalanan sekitar 268 km, dengan rute pulang pergi yang berbeda, TVS Apache tidak menemui kendala berarti. Dalam berbagai lintasan, baik medan berat (menanjak, dan berlubang) maupun ringan (biasa), andalan PT  TVS Motor Company Indonesia ini sangat lincah. Bahkan, saat digeber menuju Puncak, sepeda motor yang memiliki panjang 2.020 milimeter dan lebar 730 mm ini, tidak menemui hambatan berarti.

Bahkan, saat melintasi jalanan sedikit berlubang, TVS Apache cukup lincah melintasinya. Sebab jarak antara mesin ke tanah hanya mencapai 180 mm.

Di jalanan berlubang, TVS Apache terasa empuk, karena balutan suspensi depan yang menggunakan garpu teleskopik dan suspensi belakang memakai Monotube Inverted Gas dengan spring aid. Ini juga terjadi berkat penggunaan poly shock absorber yang memberikan kesan ekstra keamanan dan kenyamanan saat berkendara di medan yang rusak.

Kelebihan lain yang dimiliki TVS Apache adalah rangka sasis chasis jenis Double Cradle SynchroStiff yang tampak kokoh. Kondisi ini memungkinkan TVS Apache untuk mengangkut pengendara maupun penumpangnya dengan berat 140 kg (berdua). Ini dibuktikan ketika saya mengajak rekan untuk berboncengan bersama mengendarai sepeda motor tersebut.

Kelebihan lain yang dimiliki Apache terletak pada spedometer yang telah menganut sistem digital. Indikator waktu, jarak tempuh, bahan bakar, top speed, tampak jelas. Hal itu memungkinkan pengendara mengetahui batasan waktu atau jarak yang sedang ditempuh. Fitur-fitur tersebut tersebut tak sama dengan kebanyakan sepeda motor sejenis yang masih menggunakan sistem manual.

Tampilan lampu belakang TVS Apache juga sangat mengesankan dengan lampu pernak-pernik yang unik. Dari kejauhan, tampilan lampu ini makin menegaskan TVS Apache mirip kompetitornya sesama pabrikan India.

Kelebihan lainnya adalah sistem pengaman. Kendati hanya rem depan yang dilengkapi dengan cakram petal selebar 270 mm (rem belakang menggunakan tromol 130 mm), rem TVS Apache masih cukup pakem untuk mencengkram pada kecepatan 80 km/jam.

Hal itu terjadi ketika saya melintas di jalur Wanayasa yang banyak tikungan. Selain didukung rem cakram dan tromol, TVS Apache dengan lincah mampu  melakukan manuver dengan bantuan engine break.

Meskipun demikian, masih ada sedikit catatan, soal TVS Apache yang memiliki daya akselerasi 0-60 km hanya dalam 4,8 detik tersebut. Contohnya, setelan perseneling TVS Apache susah netral dan masih tetap nyelonong walaupun tuas perseneling sudah ditarik. Hal itu sering terjadi saat menempuh rute lalu lintas yang padat merayap. Semoga kendala tersebut bisa diatasi seperti suku Apache yang dikenal dengan kekuatan dan ketangguhannya. (rio winto)

Foto StephenLangitan.com

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!