Sensasi Negeri Seribu Candi

Candi Brahu - Foto Andra

Candi Brahu – Foto Andra

BEBERAPA waktu lalu, Elsid Arendra Filemon, salah satu personel Scorpio Owners Club Indonesia (Scoci), sempat bercerita tentang perjalanannya ke Jawa Timur, dengan kuda besi andalannya, Yamaha Scorpio Z 2006. Andra, panggilan akrab Arendra, tanpa panjang lebar segera menuturkan kisah perjalanannya dalam bentuk tulisan yang diterima riowinto.wordpress.com.

Menurut Andra, Jatim masih menyembunyikan banyak hal dari sisi wajahnya yang nampak sekarang ini. Mulai dari wisata alam, gunung, lembah, sejarah dan kuliner, semuanya ada. Berkendara menuju berbagai peninggalan sejarah di Trowulan, menatap keangkuhan candi-candi tua yang memang anggun dan indah. Mulai dari candi Brahu, candi Tikus, Kolam Segaran, kolam kuno terbesar, candi narsis di Pandaan-candi Jawi sampai candi Jabung yang malu-malu tersembunyi dari keramaian jalur Surabaya-Denpasar. Semua candi itu dibangun pada masa kejayaan Majapahit mulai dari dataran rendah di Situbondo sampai dataran tinggi yang sejuk di kawasan wisata Pandaan-Tretes.

Daerah pertama yang dikunjungi adalah Trowulan. Wilayah itu berada di sebuah dataran yang merupakan ujung dari kaki tiga gunung yakni Gunung Penanggungan, Welirang, dan Anjasmoro. Tepatnya, di sekitar delta Sungai Brantas, sekitar 10 km barat daya Mojokerto atau sekitar 60 km barat daya Surabaya. Situs bersejarah Trowulan hanya menampilkan sedikit dari roman wajahnya. Masih banyak situs yang belum disingkap dari bekas pusat kota Majapahit ini. Banyak bangunan candi yang masih tertimbun dalam tanah atau hanya tampak sebagian kecil saja karena belum digali secara utuh. Bila Kamboja memiliki peninggalan peradaban berupa Angkor Wat, Peru menyimpan Machu Picchu, Italia dengan reruntuhan Pompeii, dan Yunani terdapat Acropolis di Athena, sedangkan Indonesia hanya memiliki Trowulan yang sampai sekarang pun belum tergali sempurna. Sungguh sayang.

Di Trowulan, para pengunjung bisa membangkitkan reka imajinasi tentang kehidupan dari sebuah kerajaan terbesar di Indonesia lebih dari 700 tahun yang lalu. Sebuah situs Kerajaan Majapahit dari masa abad XIII – XV Masehi. Pengunjung dapat mengenang kebesarannya dan tidak lagi berpikiran bahwa semua hanya bisa diketahui dari buku sejarah atau dari internet.

Untuk menikmati situs kota purbakala ini mungkin  membutuhkan waktu lebih dari sehari. Ada banyak situs yang dapat  kunjungi seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Brahu, Candi Kedaton, Gapura Wringin Lawang, Kolam Segaran, Pendopo Mojopahit yaitu Petilasan Gajahmada, Museum Trowulan, Makam Putri Cempa yaitu Permaisuri Raja Majapahit terakhir, Brawijaya. Ada juga Makam Troloyo yaitu makam Syeikh Jumadil Qubro, kakeknya para Wali Songo.

Hal ini juga membuktikan adanya komunitas Muslim di dalam kota kerajaan Majapahit. Ada juga makam Panjang yang menunjukkan adanya penghuni Trowulan sebelum era Majapahit.

Jangan lupa mampir  ke kolam Segaran Majapahit. Kolam kuno terbesar yang mempunyai panjang  375 m dan lebar 125 meter, dan tinggi dindingnya 3,16 meter. Kolam yang sampai saat ini masih dialiri air tersebut tak ubahnya telaga di tengah kota. Kolam (balong) kuno seluas 6,5 hektare ini ditemukan pertama kali oleh Maclain Pont pada 1926. Semasa Kerajaan Majapahit kolam ini juga difungsikan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Fungsi utamanya sebagai waduk dan penambah kesejukan udara kota. Dugaan sebagai waduk ini diperkuat dengan ditemukannya saluran pembuangan air yang berhubungan dengan Kolam Bulat (Balong Bunder) di Selatan serta Kolam Panjang (Balong Dowo), tepat di depan Museum Trowulan.

Namun, kedua balong itu sudah tak berfungsi karena pendangkalan. Menurut cerita rakyat pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Apabila perjamuan tamu telah usai, peralatan perjamuan seperti piring, sendok, ataupun mangkok yang terbuat dari emas dibuang di kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit. Namun, di dasar kolam telah lebih dahulu dipasang jaring, sehingga saat tamu sudah pergi, peralatan-peralatan tersebut diambil kembali untuk digunakan.

Candi Jawi

Itu baru peninggalan bersejarah di satu tempat. Kurang lebih 200 km dari Trowulan tersembunyi sebuah candi yang jaraknya hanya 500m dari jalan raya nasional. Ya, candi Jawi di Situbondo tak banyak diketahui orang dan tidak terlalu terkenal seperti Borobudur ataupun situs Trowulan.

Candi Jawi - Foto Andra

Candi Jawi – Foto Andra

Menuju Situbondo dari Trowulan bisa ditempuh melalui ‘jalan belakang’ sekaligus menyusuri kawasan wisata di punggung gunung Welirang. Ada empat kawasan wisata terkenal ada di sini, yaitu Pacet, Trawas, Tretes dan Prigen. Turun dari Tretes jangan lupa melihat candi Jawi yang ‘bersemedi’ persis di pinggir jalan raya Tretes-Pandaan. Tak perlu keluar banyak uang untuk menikmati keindahan Candi Jawi ini. Hanya biaya parkir dan tiket masuk yang sangat terjangkau, tak sebanding dengan kepuasan batin memanjakan mata. Kesan pertama kali yang terlihat adalah bahwa candi ini nampak berbeda dari candi lain di Jatim yang dibangun dengan menggunakan batu bata.

Candi Jawi dibangun dengan menggunakan batu andesit dengan dua macam warna, bagian bawah menggunakan batu andesit berwarna hitam dan bagian atas menggunakan batu andesit berwarna putih. Hal itu mengundang pertanyaan karena karena kawasan yang termasuk kaki Gunung Welirang kebanyakan berbatu hitam, dan batu putih hanya sering dijumpai di daerah pesisir utara Jawa atau Madura.

Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya pada 1938-1941 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali pada 1975-1980, dan diresmikan pada 1982. Kini biaya pemeliharaan didapatkan dari sumbangan sukarela dari pengunjung maupun LSM lainnya.

Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Mungkin saja sudah berkeping-keping. Di gudang belakang candi memang terdapat potongan-potongan patung. Selain itu, terdapat sisa bangunan gapura dan pagar bata merah seperti yang banyak dijumpai di bangunan pada masa Kerajaan Majapahit yang banyak terdapat di Trowulan.

Candi Jawi dibangun sekitar abad ke-13 pada masa pemerintahan Raja Kertanegara dan merupakan peninggalan bersejarah Hindu – Buddha Kerajaan Singhasari. Alasan Kertanegara membangun candi Jawi jauh dari pusat kerajaan diduga karena di kawasan ini pengikut ajaran Siwa-Buddha sangat kuat. Rakyat di daerah itu sangat setia. Sekalipun Kertanegara dikenal sebagai raja yang masyhur, nyatanya dia juga memiliki banyak musuh di dalam negeri. Beberapa kitab kuno menyebutkan pemberontakan di masa pemerintahannya.

Ada dugaan bahwa kawasan Candi Jawi dijadikan basis oleh pendukung Kertanegara. Dugaan ini timbul dari kisah sejarah bahwa saat Dyah Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegera dikudeta raja bawahannya, Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), dia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.

Yang unik dari Candi Jawi adalah posisi pintu yang tidak seperti candi lain. Kebanyakan candi untuk peribadatan menghadap ke arah gunung, tempat yang dipercaya sebagai tempat persemayaman kepada Dewa. Candi Jawi justru membelakangi Gunung Penanggungan.

Sedangkan ahli lain ada pula yang beranggapan bahwa candi ini tetaplah candi pemujaan, dan posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung karena pengaruh dari ajaran Buddha. Selesai menikmati keindahan candi Jawi kita menuju ke kota Situbondo, tempat bermukimnya candi yang tidak banyak dikenal.

Candi Jabung

Kemudian, Andra menemukan sebuah bangunan unik di kecamatan Jabung. Bermandi cahaya matahari pagi yang kebetulan sedang ramah pada musim penghujan, Candi Jabung berdiri kokoh di hamparan rumput yang nampak seperti karpet hijau berkilau karena embun.

Candi Jabung - Foto Andra

Candi Jabung – Foto Andra

Candi Jabung adalah salah satu candi hindu peninggalan kerajaan Majapahit. Berdasarkan inskripsi pada pintu masuk, candi ini didirikan pada 1276 c (saka) = 1354 Masehi masa kebesaran kerajaan Majapahit. Candi hindu ini terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Letaknya tersembunyi dari keramaian jalan raya Surabaya-Denpasar yang berjarak hanya sekitar 500 meter.

Dalam kitab Nagarakertagama Candi Jabung di sebutkan dengan nama Bajrajinaparamitapura. Dalam kitab Nagarakertagama candi Jabung dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada lawatannya keliling Jawa Timur pada 1359 Masehi. Pada kitab Pararaton disebut Sajabung yaitu tempat pemakaman Bhre Gundal salah seorang keluarga raja. Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Bahal yang ada di Bahal, Sumatera Utara. Struktur bangunan candi yang terdiri atas bata merah ini mampu bertahan ratusan tahun, sungguh mengagumkan. Usai menikmati salah satu kekayaan Situbondo, rasanya tanggung berkelana bila tidak mampir ke sebuah taman nasional di kabupaten ini. Jaraknya sekitar 120 km dari lokasi candi Jabung ini, arahkan saja kendaraan ke Ketapang, Banyuwangi.

 Landmark Pos Bekol - Foto Andra

Landmark Pos Bekol – Foto Andra

Jalan raya menuju Ketapang Banyuwangi relatif bagus, jalan lebar empat lajur dengan aspal hotmix yang mulus membuat berkendara menikmati pemandangan indah pantai Situbondo terasa nyaman. Jalan lebar mulus penghubung Surabaya-Denpasar itu menembus hutan jati yang menyembunyikan keindahan Taman Nasional Baluran dari pandangan pengendara. Memangnya ada apa di Taman Nasional Baluran itu? Mulai dari gunung, padang savanah, hutan bakau, pemandangan pantai hingga area yang selalu hijau sepanjang tahun dan dijuluki ‘Curah Uling’ dalam bahasa setempat atau ‘Evergreen’ oleh para peneliti. Tak heran bila taman nasional ini dijuluki ‘Africa van Java’ oleh banyak orang. Sebab, nuansa Afrika terasa sangat kental terutama di padang savanahnya.

Sedangkan satwanya, mulai dari banteng, kerbau liar, rusa, kera ekor panjang, ajag (sejenis anjing hutan), macan tutul, kucing hutan, kancil sampai ratusan jenis burung bermukim di sini.

Namun, ada satu pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pengelola taman nasional ini: Penurunan populasi banteng di Baluran yang disebabkan oleh semakin sempitnya daya dukung habitat berupa savana. Akibat serbuan akasia, luas savana yang semula 10.000 hektare kini tersisa 5.000 hektare. Invasi akasia berduri ini menghambat pertumbuhan rumput yang menjadi makanan utama banteng. Baluran dipilih menjadi kawasan konservasi banteng. Sebab, banteng di kawasan ini terkenal memiliki genetik yang baik. Banteng jantan Baluran memiliki fisik besar, jarang ditemui di kawasan lain.

Africa Van Java - Foto Andra

Africa Van Java – Foto Andra

Ada dua check point utama yang wajib dikunjungi, yakni pos Bekol, di mana terdapat padang savanah tempat berkumpulnya banteng dan rusa ketika senja untuk minum, dan di sana juga terdapat menara pemantau untuk melihat berbagai jenis burung di pepohonan dan adapula landmark khas Baluran; pajangan kerangka kepala Banteng dan Kerbau. Pos kedua adalah Pos Pantai Bama, sebuah pantai tersembunyi dengan hamparan pasir putih dan air yang tenang.

Liburan akhir tahun 2012 yang hanya beberapa hari terasa kurang. Sebab, Jatim masih menyimpan sejuta pesonanya yang lain. Sebut saja beberapa tempat yang wajib dikunjungi para bikers, Taman Nasional Bromo Semeru Tengger, Jembatan Suromadu, titik paling timur dan paling selatan Pulau Jawa, di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri, berbagai candi lain yang tersebar di wilayah selatan JawaTimur dan kekayaan kulinernya. Betapa kayanya Indonesia dengan keragaman budaya, kekayaan alam dan peninggalan sejarahnya yang tersebar di seluruh provinsi. (Laporan Elsid Arendra Filemon)

2 Tanggapan

  1. Ayo Bung, kapan jalan neh, Pinjam new oplok-oplok ajah😀 #eaaaa

  2. Asyik ya bisa touring jarak jauh, ajak-ajak dong mas bro.

    Btw, salam kenal

    http://rideralit.wordpress.com/2013/11/17/buitenzorg-motarders-bogor-supermoto-community/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: