Peduli Gerakan Membaca Indonesia

Foto Rio – Ahmad Yunus (kanan) bersama istri, Dewi Cholidatul Ummah dan sang buah hati, Neira Senja Medinah (6 bulan).

PRIHATIN dan gemas karena mahalnya biaya pendidikan di Indonesia membuat pasangan suami istri, Ahmad Yunus, 30 tahun, dan Dewi Cholidatul Ummah, 30 tahun, berpikir untuk membantu masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil.

Salah satu upaya Yunus dan istri adalah membuat Gerakan Membaca Indonesia (GMI). GMI adalah sebuah gerakan pendidikan di kepulauan Indonesia yang terinspirasi dari hasil perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Ekspedisi ini dilakukan oleh dua orang wartawan, Ahmad Yunus dan Farid Gaban, melakukan perjalanan keliling Indonesia. Tujuannya untuk mendokumentasikan alam kepulauan dan manusianya di 80 pulau.

Mulai dari Sabang hingga Merauke. Dari Miangas hingga Rote. Ekspedisi ini berlangsung dari Juni 2009 hingga Juni 2010 dan menghasilkan 10 ribu foto, 70 jam video dan ratusan catatan perjalanan. Kegiatan saat ini berlanjut pada diskusi buku, pemutaran film hingga pameran foto yang berlangsung di komunitas dan kampus.

Salah satu hasil dari perjalanan tersebut juga menghasilkan buku “Meraba Indonesia”. Sebuah buku yang berisi catatan perjalanan dan cerita tentang kehidupan masyarakat di kepulauan Indonesia. Buku ini terbit pada Juli 2011.

Buku Meraba Indonesia memberikan potret kekinian tentang wajah Indonesia hari ini. Wajah Indonesia dari pinggiran yang luput dari perhatian publik dan media. Buku ini mendorong semangat dan perhatian dari publik untuk lebih peduli dengan kondisi masyarakat di kepulauan. Salah satunya adalah melalui gerakan membaca Indonesia. Dengan kegiatan utama mendirikan taman bacaan dalam program “Pulau Seribu Buku”.

Pulau Seribu Buku menghimpun buku baru maupun buku bekas dari berbagai elemen masyarakat dan individu. Dengan gerakan ini diharapkan masyarakat di kepulauan, khususnya anak-anak dapat menikmati berbagai macam bacaan dan mendorong semangat gemar membaca buku.

GMI bersama Yayasan Miyara Sumatera memulai gerakan pendidikan ini di Pulau Sebesi-Sebuku, Lampung Selatan. Dan diharapkan ke depan bisa menjadi model dan adopsi program pendidikan di pulau-pulau lainnya.

“Pulau Sebesi-Sebuku adalah salah satu dari sekian ribu pulau yang terdapat di Indonesia. Pulau ini terletak di Teluk Lampung, Kecamatan Raja Basa, Lampung Selatan. Menuju pulau ini bisa ditempuh sekitar satu setengah jam melalui perjalanan laut dengan naik kapal motor yang berangkat satu kali dalam sehari. Desa Tejang Pulau Sebesi terdiri atas empat dusun yaitu dusun Bangunan, Inpres, Regahan Lada, dan Segenom. Sebagian besar penduduknya hidup dari berkebun dan sebagai nelayan,” ujar Yunus dan sang istri saat ditemui di kediamannya di Pejaten, Minggu (11/09/2011).

Seperti tertulis dari data yang diterima di jaringan elektronik Oto Blogger Indonesia (OBI), luas wilayah Pulau Sebesi, kata Yunus, adalah 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Di sini juga terdapat sebuah endapan gunung api muda dan merupakan daratan perbukitan. Bukit tertinggi di Pulau Sebesi mencapai 884 meter dari permukaan laut dengan bentuk kerucut yang mempunyai tiga puncak.

“Wilayah Lampung memiliki luas lautan sekitar 24 ribu km persegi, 440 ribu ha wilayah pesisir dan 69 pulau kecil serta dua buah teluk,” jelas dia.

Akses menuju Pulau Sebesi, kata Yunus, adalah dari pelabuhan Canti yang ada di Kalianda Lampung Selatan. Selain dari Canti, ke Pulau Sebesi juga dapat ditempuh dari Cilegon, Provinsi Banten dengan menggunakan perahu motor yang biasanya mengangkut kelapa dan kopra.

Saat ini fasilitas penerangan yang ada di Pulau Sebesi adalah listrik yang dikelola oleh PLN dengan generator diesel. Listrik menyala dari jam 18.00 sampai dengan jam 24.00. Namun listrik ini hanya dapat dinikmati oleh penduduk di Dusun Inpres dan Bangunan. Komunikasi sinyal telephone seluler dapat terakses di pulau ini.

Di pulau ini terdapat satu sekolah dasar negeri yang terletak di Dusun Inpres, madrasah ibtidaiyah di Dusun Segenom dan program kejar paket B (setingkat SMP) di Dusung Tejang Inpres.

“Taman bacaan adalah salah satu sarana fasilitas dan aktifitas belajar di luar pendidikan formal sekolah.  Kehadiran taman bacaan ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan mendorong usaha pencerdasan bangsa. Taman bacaan ini juga akan memiliki serangkaian program pendidikan alternatif lainnya. Seperti kegiatan mendongeng, membaca buku, kelas menulis dan kegiatan keterampilan lainnya,”tambah Yunus.

Taman bacaan juga berkeinginan memiliki fasilitas penunjang pendidikan lainnya yang membantu kreatifitas. Misalnya memiliki alat-alat peraga belajar.

“Kami juga masih membutuhkan Bola Dunia, dan permainan-permainan edukasi. Semoga dengan adanya tambahan buku-buku bacaan, pengetahuan masyarakat di pulau terpencil, khususnya Pulau Sebesi semakin luas,”tambah Yunus. (rio)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: