Program Pulau 1.000 Buku

Foto Zamrud Khatulistiwa – Farid Gaban (kiri) dan Ahmad Yunus memulai etape kedua ekspedisi dari Sabang, Pulau Weh, Aceh. Ujung Sebuah ujung Pulau Weh yang menjorok ke Samudra Hindia, tebing cadas tinggi yang gemuruh oleh debur ombak, dikenal dengan Kilometer Nol, titik paling barat negeri ini.

ADAyang menarik saat melihat informasi yang diberikan Bung Edo Rusyanto melalui jaringan surat elektronik Oto Blogger Indonesia (OBI), Jumat (09/09/2011) malam. Dalam informasi itu, Ahmad Yunus bersama sang istri berencana untuk membuat gerakan taman bacaan di pulau-pulau yang tersebar diIndonesia.

Menurut Ahmad Yunus, program itu bernama Pulau 1.000 Buku. “Ini inisiatif saya dan istriku. Pulau pertama yang akan dibangun Pulau Sebesi, Lampung Selatan. Saya mau minta kerjasamanya agar kawan-kawan membawa buku bekas saat diskusi besok. Buku apa saja yang penting bermanfaat buat warga dan anak-anak sekolah. Insya Allah menjadi barokah, trims,” tulis Ahmad Yunus dalam jaringan surat elektronik OBI.

Ahmad Yunus pun memberikan waktunya kepada OBI untuk berdiskusi mulai dari soal buku Meraba Indonesia – Ekspedisi ‘Gila’ Keliling Indonesia sampai program Pulau 1.000 Buku dalam ajang Kompor OBI (Kombi) di Gedung Leksika, Jalan Raya Lenteng Agung No 101, Jakarta Selatan, Sabtu (10/09/2011), pukul 15.00-17.00 WIB. Dalam waktu dekat, Ahmad Yunus akan pindah ke Lampung, 17 September 2011. Sebab, dia akan mengajar di Indonesia Mengajar, 24 September 2011.

Ahmad Yunus merupakan penulis buku MerabaIndonesia– Ekspedisi ‘Gila’ Keliling Nusantara. Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor Honda Win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesiasebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.

Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Bagi dia, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentangIndonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terlupakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.

Indonesia yang dipahami Yunus adalah Indonesia khayali. Benedcit Anderson, Indonesianis asal Amerika Serikat itu, menyebutnya komunitas terbayangkan. Imagined Communities. “Kita sejak SD nyanyi dari Sabang sampai Merauke. Tapi kita tidak tahu bagaimana Sabang dan Merauke,” kata pria yang pernah bekerja menjadi kontributor Yayasan Pantau ini, sebuah yayasan jurnalisme.

Mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesiabersama rakyatnya dari dekat. Demikian Soe Hok Gie, aktivis tahun 1966 pernah berkata. Dan, Yunus tahu Gie benar. Dan itulah yang tidak pernah dipahami oleh elite politikIndonesiaselama ini.

Paraelite politik berjualan isu tentang kemasyarakatan. Namun, menurut Yunus, masyarakat tak peduli. Ini disebabkan para elite itu tak mau turun langsung ke lapangan dan mencari tahu persoalan di daerah.

Warga lokal menjadi bagian dari ‘yang bisu’. Masyarakat menjadi ‘bisu’, karena media massa lebih tertarik pada isu-isu drama politik macam skandal Nazaruddin dan Demokrat. Yunus pun memilih bercerita, bagaimana Sungai Kapuas di Sintang menyusut dan menjadi lapangan sepakbola. Ia bercerita tentang bagaimana susahnya urusan akses transportasi antar-pulau di Indonesia timur. Negara seolah tak hadir, pemerintah seolah tak ada disana, mengulurkan tangan kepada warga.  (rio)

6 Tanggapan

  1. keren..keren salut!!

  2. Excelent Program, Menyumbang buku bekas mungkin bisa di publikasikan supaya lebih banyak masyarakat yg ikut berpartisipasi dan jumlah buku yg didapat semakin besar.

  3. Mantep, maju teruss Kang….
    btw, tapi kok sendalan ya… apalagi yg kanan pake celana pendek, hehehee🙂

  4. To All Bro: Trims atensinya.. Mari dukung Pulau 1.000 Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: